Singkawang Media - Perayaan Imlek dan Cap Go Meh (CGM) Singkawang 2026 bakal menghadirkan daya tarik tak biasa. Panitia menyiapkan delapan ekor kuda asli yang akan tampil di kawasan Stadion Kridasana sebagai simbol shio tahun ini sekaligus penguat identitas budaya dalam perayaan imlek.
Ketua Pelaksana Imlek dan CGM Singkawang 2026, Bun Cin Thong, mengatakan kehadiran kuda menjadi salah satu ikon utama perayaan tahun ini. Awalnya, panitia berencana mendatangkan kuda dari Pulau Jawa. Namun setelah dilakukan penelusuran, ternyata Singkawang telah memiliki delapan ekor kuda yang sesuai kriteria.
“Tahun ini sangat istimewa. Pengunjung nantinya diperbolehkan menaiki kuda-kuda tersebut dengan pendampingan joki profesional untuk memutari taman yang telah kami siapkan,” ujar Bun Cin Thong, Jumat (30/1/2026).
Panitia juga menyiapkan taman tematik di Stadion Kridasana dengan konsep “Shio Buddha”. Desain visual taman akan memadukan nuansa modern dengan atmosfer dinasti kuno. Selain itu, replika dan panggung seni budaya turut dibangun untuk mendukung rangkaian acara.
Panggung seni budaya tersebut akan beroperasi selama 14 hari penuh dan menjadi wadah penampilan seni dari 17 paguyuban etnis yang ada di Kota Singkawang. Menurutnya, ruang ini disiapkan sebagai bentuk perayaan keberagaman budaya.
“Ini adalah ruang bagi seluruh etnis untuk menampilkan kebudayaan masing-masing,” ujarnya.
Tak hanya menonjolkan budaya, perayaan Imlek dan CGM Singkawang 2026 juga mengusung kuat nilai toleransi. Panitia Imlek dan CGM berkolaborasi dengan panitia Ramadan Fair dalam penataan dan dekorasi jalan-jalan utama kota, termasuk Jalan P. Diponegoro.
Dekorasi kota akan menampilkan perpaduan warna khas dua perayaan besar, yakni lampion merah Imlek yang berdampingan dengan hiasan hijau dan kuning khas Ramadan. Hingga saat ini, progres pemasangan dekorasi telah mencapai sekitar 60 persen dan ditargetkan rampung dalam satu pekan ke depan.
Bun Cin Thong menegaskan, kepanitiaan Imlek dan CGM tahun ini bersifat inklusif dan melibatkan berbagai etnis, tidak hanya warga Tionghoa. Hal tersebut menegaskan bahwa Imlek dan Cap Go Meh telah menjadi identitas budaya bersama masyarakat Singkawang.
“Panitia yang dibentuk betul-betul inklusif. Kami ingin menunjukkan bahwa perayaan ini adalah milik bersama, sekaligus simbol keharmonisan di Kota Singkawang,” tutupnya.







