Singkawang Media - Di tengah kepungan asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Singkawang menggelar doa lintas agama bertema “Bersatu dalam Doa, Bergerak untuk Bumi Singkawang Bebas Asap dan Karhutla”, Jumat (28/8/2026) malam.

Doa bersama yang digelar itu menjadi ikhtiar spiritual di tengah karhutla yang telah berlangsung selama berminggu-minggu. Para tokoh lintas agama memanjatkan doa agar hujan segera turun dan kondisi Kota Singkawang kembali pulih.

Doa dipimpin tokoh dari enam agama, yakni Marsudi dari Islam, S. Ari Prasetiyo dari Katolik, I Putu Yayan Chanes dari Kristen, Tjia Kong Min dari Buddha, Pinandita Kamili dari Hindu, serta Jhonni Sun dari Konghucu.

Kegiatan tersebut dihadiri Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie, jajaran Forkopimda, kepala OPD, camat, lurah, hingga tokoh masyarakat. Mereka duduk bersama dalam satu ikhtiar: memohon pertolongan Tuhan sekaligus menguatkan semangat gotong royong menghadapi karhutla.

Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie mengatakan karhutla telah berlangsung selama berminggu-minggu. Sedikitnya 12 titik menjadi perhatian penanganan dan hingga kini upaya pemadaman masih terus dilakukan oleh tim gabungan.

“Dari sisi udara atau ISPU, kondisi udara kita sudah tidak sehat. Dari sisi pendidikan, kita meliburkan anak-anak sekolah secara tatap muka dan saat ini pembelajaran dilakukan secara daring,” kata Tjhai Chui Mie.

Dampak karhutla juga mulai terasa di berbagai sektor. Selain mengganggu kesehatan dan pendidikan, kepungan asap turut berdampak terhadap aktivitas ekonomi, termasuk penerbangan di Bandara Singkawang.

“Dampaknya dirasakan dari sisi ekonomi, pendidikan dan kesehatan. Harapan kita satu-satunya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Saya yakin dan percaya dengan kekuatan doa bersama dan ikhtiar bersama, Tuhan pasti mendengarkan dan mengabulkan doa-doa yang disampaikan para tokoh agama, termasuk memohon hujan,” ujarnya.

Meski mengandalkan kekuatan doa, Tjhai Chui Mie menegaskan penanganan karhutla tetap dilakukan melalui langkah konkret. Pemkot Singkawang bersama TNI-Polri, BPBD, Manggala Agni, BPKS dan Masyarakat Peduli Api (MPA) terus mengepung titik api agar tidak meluas.

“TNI sudah membuka tiga sumur bor. Kalau diperlukan, kita akan membuka lagi. Kita juga akan membuat saluran agar api tidak merambat dari satu lahan ke lahan lainnya,” jelasnya.

Di tengah kondisi tersebut, solidaritas warga juga menjadi kekuatan tersendiri. Masyarakat dan pihak swasta ikut menyuplai air serta membantu operasi pemadaman di sejumlah lokasi.

“Banyak masyarakat yang tergerak. Ada yang menyuplai air, ada yang ikut menyemprot. Ini menjadi kebanggaan kita karena masyarakat ikut bergerak,” ungkapnya.